daftar bocoran admin jarwo terpercaya
bina marga dki

Pembangunan Jurassic Park di Nusa Tenggara Timur dan Kelangsungan Hidup Komodo

Pembangunan Jurassic Park di Nusa Tenggara Timur dan Kelangsungan Hidup Komodo

Melalui Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR sudah menganggarkan Rp 52 miliar untuk menata kawasan Pulau Rinca yang meliputi bangunan pusat informasi, sentra souvenir, kafe, dan toilet publik. Kemudian dibangun pula kantor pengelola kawasan, selfie spot, klinik, gudang, ruang terbuka publik, penginapan untuk peneliti dan pemandu wisata (ranger). Area trekking untuk pejalan kaki dan shelter pengunjung didesain melayang atau elevated, sehingga tidak mengganggu lantas lintas Komodo.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang menata dan mengembangkan KawasaMelalui Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR sudah menganggarkan Rp 52 miliar untuk menata kawasan Pulau Rinca yang meliputi bangunan pusat informasi, sentra souvenir, kafe, dan toilet publik. Kemudian dibangun pula kantor pengelola kawasan, selfie spot, klinik, gudang, ruang terbuka publik, penginapan untuk peneliti dan pemandu wisata (ranger). Area trekking untuk pejalan kaki dan shelter pengunjung didesain melayang atau elevated, sehingga tidak mengganggu lantas lintas Komodo.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang menata dan mengembangkan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu kawasan yang dapat mengalami pergantian desain secara vital adalah Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat. Pulau ini dapat disulap menjadi destinasi wisata premium bersama pendekatan rancangan geopark atau wilayah terpadu yang utamakan bantuan dan penggunaan warisan geologi bersama langkah yang berkelanjutan.

Baca terus berita update pembagungan Negara Republik Indonesia Dari Laman binamargadki.net (click here)

Pembangunan Tuai Kecaman

“Dapat dijelaskan bahwa kesibukan kesibukan pengangkutan material pembangunan yang menggunakan alat berat dilaksanakan gara-gara tidak dimungkinkan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan alat-alat berat seperti truk, ekskavator dan lain-lain, sudah dilaksanakan bersama komitmen kehati-hatian,” kata Kepala Biro Humas KLHK Nunu Anugrah dalam info pers. Nunu mengatakan, secara tertentu wilayah pembangungan proyek wisata di foto berikut tersedia di Lembah Loh Buaya, Pulau Rinca. Menurut Nunu, estimasi populasi komodo di Loh Buaya selagi ini tersedia lebih kurang 66 ekor dan jumlahnya relatif stabil. Bahkan, cenderung sedikit meningkat dalam lima th. terakhir. Sementara, jumlah komodo yang kerap berkeliaran di lebih kurang area pembangunan proyek wisata di Loh Buaya diperkirakan lebih kurang 15 ekor. Komodo-modo berikut mempunyai prilaku berjemur tiap tiap pagi. Nunu termasuk menegaskan, pembangunan proyek tidak dapat membahayakan populasi komodo. “Hal ini dapat dibuktikan bersama tren populasi yang senantiasa stabil di wilayah wisata Loh Buaya tersebut. Artinya, seumpama dikontrol bersama baik dan meminimalisasi kontak satwa, maka kesibukan wisata terhadap situasi selagi ini dinilai tidak membahayakan populasi komodo area wisata tersebut,” ujarnya.

Nunu mengatakan, sepanjang pembangunan proyek wisata di Pulau Rinca ini, pemerintah menurunkan 5 sampai 10 ranger untuk mengawasi satwa komodo di lebih kurang lokasi. Para ranger berikut jalankan kontrol keberadaan komodo, seperti di kolong-kolong bangunan sampai kolong truk pengangkut material. “Dalam pembangunan sarana dan prasarana sudah dilaksanakan protokol untuk menghindar efek negatif dari pembangunan sarana dan prasarana berikut terhadap satwa komodo yang diawasi oleh 5-10 ranger,” ucap Nunu. Saat ini, pembangunan proyek wisata di Pulau Rinca sudah meraih 30 persen.

Melalui surat pengumuman Nomor PG.816/T.17/TU/EVLP/10/2020, pemerintah menutup selagi resort Loh Buaya dari kunjungan wisatawan dalam rangka mempercepat proses pembangunan proyek wisata.¬† Penjelasan Pemprov NTT Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu menjelaskan, pembangunan Jurassic Park itu berlokasi di Pulau Rinca yang sepanjang ini difungsikan sebagai kawasan pariwisata umum. Sementara itu, tak tersedia pembangunan di Pulau Komodo yang menyandang status kawasan konservasi. “Jadi kudu dibedakan antara Pulau Komodo sebagai area konservasi dan Pulau Rinca yang diperuntukan untuk mass tourism (pariwisata umum),” ujar Marius kepada Kompas.com, lewat sambungan telepon. Menurut Marius, proyek Jurassic Park itu dibangun untuk menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu kawasan destinasi pariwisata super premium. “Kita menginginkan penduduk tidak lihat seolah-olah pembangunan itu mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sama sekali tidak. Pembangunan itu sesungguhnya melengkapi Pulau Rinca sebagai destinasi pariwisata umum,” kata Marius.

Marius menjelaskan, dermaga, jalan, dan infrastruktur penunjang yang dibutuhkan wisatawan domestik dan internasional dapat dibangun di Pulau Rinca. Ia berharap, penduduk dapat menilai pembangunan proyek itu secara proporsional. “Bahwa tersedia efek kebisingan itu tentu gara-gara membangun dermaga sehingga memerlukan mobil truk dan alat berat tapi serupa sekali tidak tersedia obyek untuk mematikan komodo,” tegasnya. Marius termasuk menghendaki pengelola Taman Nasional Komodo untuk memindahkan semua komodo yang berada di lebih kurang area proyek dipindahkan. “Kita minta Kepala Taman Nasional Komodo langsung berkoordinasi sehingga komodo diarahkan ke area lain sehingga jauh dari wilayah pembangunan. Mereka tentu sudah mempunyai cara,” kata Marius. “Misalnya bersama mempersiapkan makanan untuk komodo sehingga mereka dapat diarahkan ke sana. Mereka sudah mempunyai langkah untuk mengendalikan, mengontrol, mengawasi dan sebagainya,” tambahnya.